SUGENG RAWUH DATENG BLOG KULA

Rabu, 21 Desember 2011

SHALAWAT NABI

"Sungguh Allah melimpahkan solawat dan para malaikat memohonkan solawat untuk Nabi SAW, maka wahai orang-orang yang beriman, bacakanlah (mohonkanlah) solawat untuknya…”  Potongan ayat ini hampir pasti dibacakan para khotib pada khutbah bagian kedua.
Karena telah dilimpahi sholawat oleh Allah dan dibacakan sholawat para malaikat, logisnya Nabi SAW sudah turah/berkecukupan sholawat. Jadi, kitalah yang butuh membacakan sholawat kepada beliau. Mengapa? Setiap sekali kita membacakan sholawat untuk beliau, Allah melimpahkan sholawat buat kita minimal sepuluh kali.
Makna sholawat secara umum adalah pernyatan kasih dan cinta. Setiap orang yang berakal dan berilmu, pastilah mewajibkan dirinya memperbanyak sholawat Nabi SAW. Mengapa? Tiada kasih dan cinta yang melebihi kasih dan cinta Nabi SAW kepada umat manusia. Allah mengabarkan: “…berat terasa  bagi (hati) beliau penderitaan kalian, (beliau) sangat ingin kalian (selamat dunia-akherat)…”  Wajar jika Taufik Ismail menuliskan : “Cinta ikhlasmu pada manusia, bagai cahaya suwarga, dapatkah kami membalas cintamu, secara bersahaja…” Bahkan, kelak ketika neraka telah dinyalakan, ketika para nabi AS lupa kepada selain dirinya masing-masing karena begitu menakutkannya neraka, lalu mereka  berkata “selamatkan diriku, selamatkan diriku, diriku, Ya Allah”, Beliau SAW  justru memohon; “Diriku saja yang masuk neraka Ya Allah, diriku saja, biar neraka bagi diriku saja, selamatkan umatku, Ya Robbi, umatku Ya Allah, umatku Ya Maha Penyelamat, ”
Adakah makhluk ciptaanMu yang lebih mulia dari yang begini ini (Nabi SAW), Ya Robbi?
Sebesar-besar cinta-kasih orang tua kepada anaknya, takkan pernah lebih besar dari cinta Beliau SAW kepada kita. Sebesar-besar cinta seseorang kepada orang lainnya, takkan pernah lebih besar dari cinta Beliau SAW kepada kita.
Sejak zaman para sahabat RA hingga kapanpun, orang-orang saleh senantiasa menitikkan airmata rindu-cinta bila teringat jejak-langkah Beliau SAW. Demikianlah, maka Al Maghfurlah Al ‘Alamah Al ‘Arif Billah KH Ahmad Zaini Ghani Martapura (Tuan Guru Ijai) bila membaca Simtud Duror beserta bacaan sholawatnya, suara merdu-rindu penuh tetesan airmata beliau mengharu-biru ruh ratusan ribu santri beliau yang takkan pernah bosan menghadiri majelis tiap malam Senin ini.
Begitu pentingnya membaca sholawat nabi bagi manusia, hingga Sayyidina Syech Zainal ‘Abidin mengatakan: ciri ahlus sunnah wal jama’ah ialah banyak membaca sholawat nabi. Syech Zainuddin Al Malibari dalam kitab Irsyadul ‘Ibad malah menganjurkan: kalau bisa, sehari baca sholawat seribu kali, atau tujuhratus kali, atau paling sedikit tigaratus kali.
Di kalangan pesantren tradisional khususnya, membaca sholawat nabi dalam berbagai versi dan cara, adalah bagian terpenting setelah membaca Al Qur’an. Terlebih lagi pada malam/hari Jum’at. Kitab kumpulan doa dan sholawat Dalailul Khoirot karya Syech Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli  seolah menjadi bacaan wajib kedua setelah Al Qur’an. Tentu, mereka tahu besarnya pahala di akherat dan dahsyatnya barokah di dunia karena membaca sholawat nabi.
Gus Mus (KH A Mustofa Bisri Rembang) berkali-kali mengatakan:  “Jika tiap bibir kita sedang menganggur  komat-kamit/mengucapkan “sollallooh ‘ngalaa Muhammad  (Ya Allah, limpahkan solawat untuk Nabi Muhammad SAW,–huruf hidup dobel dibaca panjang) terus-menerus sedikitnya setahun, kok tidak sukses-bahagia-tentram-sentosa, datangi aku,ludahi mukaku dan caci-makilah diriku!”
Sumber : lidahwali.com

Kamis, 02 Juni 2011

Kselamatan yang Utama

                Sudah semakin banyak pengguna kendaraan bermotor sekarang ini. Hingga semakin banyaknya kendaraan, otomatis semakin berkurangnya untuk keselamatan di sebuah jalan raya. Itu terjadi karena di sebuah jalan raya tersebut semakin padat pengguna jalan yang saling berebut satu sama lain untuk dapat lebih cepat sampai ke tujuan.
            Mengapa suatu terobosan dari perusahaan kendaraan bermotor yang memberikan suatu kemudahan kepada para konsumen ini malah menjadikan keselamatan di jalan umum dapat berkurang ?, sebenarnya jika kita berpikir lebih jauh, hal itu hanyalah merugikan diri kita sendiri, karena hanya bermodal 500 ribu sudah dapat sepeda motor, padahal harga yang sebenarnya berkisar 13 juta. Nah, cicilan per bulan itu yang selalu membuat kita rugi besar. Setiap bulan cicilannya sekitar 400 ribu, tapi di bayar 3 tahun, coba kalau di hitung, pasti lebih dari 13 juta tadi.
            Nah, inilah pelajaran ataupun tantangan bagi kita untuk lebih berpikir keras. Sebenarnya ini merupakan tanggung jawab bagi pemerintah. Kita sering sekali melihat di media masa tentang kemacetan di Ibu Kota, hal tersebut di latar belakangi oleh masalah yang terulas di depan tadi dan ditambah para pengguna jalan hanyalah mementingkan ego mereka masing-masing.
            Pemerintah dalam hal ini sebenarnya juga tidak harus disalahkan sepenuhnya. Pemerintah sudah berupaya untuk menertibkan lalu lintas dengan adanya rambu-rambu lalu lintas yang terpasang di pinggir jalan. Apabila kita lebih berpikir, pemerintah memasang rambu-rambu tersebut tidaklah hanya asal-asalan saja, tidak sembarangan, juga tidak hanya sebagai formalitas belaka, tetapi rambu-rambu tersebut dibuat sudah dengan pertimbangan-pertimbangan yang bijak untuk para pengguna jalan. Tinggal bagaimana para pengguna jalan umum ini untuk bertindak atau mematuhinya secara kesadaran dalam diri.
            Kelebihan dalam memproduksi kendaraan bermotor memang harus di atasi. Apakah lebih enak  bersepeda dari pada memakai motor yang dapat menyebabkan bumi ini semakin hancur ?. Bukannya melarang untuk memakai motor, tetapi sebaiknya kita menggunakan motor hanyalah keperluan yang selayaknya saja, seperti untuk bepergian dalam jarak jauh dan sebagainya.
            Kesadaran para pengguna jalan untuk patuh terhadap rambu-rambu lalu lintas dari pemerintah merupakan hal awal dari terciptanya keselamatan di jalan raya. Sekarang banyak pengguna jalan sering melanggar  rambu-rambu lalu lintas yang sudah di tentukan. Contoh yang sederhana yaitu saat di perempatan yang ramai, biasanya terdapat lampu lalu lintas, hal ini kadang bahkan sering disepelekan para pengguna jalan, terdapat larangan belok kiri sebelum mengikuti lampu hijau, tapi banyak yang melanggar hal tersebut, juga ugal-ugalan saat di jalan umum. Mungkin pikir mereka karena ingin seperti pembalap yang telah mendunia atau tidak sabar, tetapi keinginan mereka yang hanya menuruti hawa nafsunya tanpa memakai akal pikiran mereka yang telah di anugerahkan untuk membedaka mana yang baik dan mana yang buruk. Alasan mereka para pelanggar untuk melanggar tata tertib berlalu lintas yaitu, pertama, mereka tidak mempunyai kesadaran bagaimana akibat melanggar lalu lintas dapat membahayakan orang lain juga membahayakan orang lain sesama pengguna jalan raya. Kedua, merekan hanya patuh jika ada petugas yaitu polisi, mereka seakan sangat patuh, tapi jika tak ada polisi yang patroli, mereka langsung saja menerobos lalu lintas yang ada. Ketiga, pengendara sering tidak memakai pengaman kepala alias helm, alasannya karena juga sama, tidak ada polisi maka berani. Keempat dan yang terakhir, mereka menganggap tata tertib berlalu lintas itu merupakan musuh bagi mereka, jadi mereka tidak pernah patuh terhadap tata tertib tersebut.
            Operasi jalan raya atau sidak ataupun juga dalam istilah Jawa yaitu “ cegatan “, sebenarnya adalah upaya yang baik untuk meningkatakn keselamatan di jalan raya. Kita lihat sekarang ini disekitar kita, banyak anak-anak yang masih di bawah umur sudah dapat mengendarai sepeda motor, bahkan juga terdapat anak sudah dapat mengendarai mobil. Hal ini juga dapat bermasalah dalam keselamatan jalan, mereka hanyalah mengetahui sebagian kecil tentang peraturan untuk mengemudikan kendaraan, sehingga dapat membahayakan keselamatan diri sendiri juga orang lain bahkan dapat juga merenggut masa depan dari anak tersebut. Inilah tantangan dari orang tua. Peran orang tua tentang masalah ini sangat dibutuhkan untuk mendidik anak supaya dapat membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Mengapa para anak-anak ini sudah dapat mengendarai sepeda motor ? karena sebagian besar dari orang tua mereka sudah mengajarinya, dengan alasan supaya dapat di suruh ke sana kemari, padahal itu malah menambah tingkat bahaya bagi anak.
            Tidak hanya itu saja, para polisi yang hanya mementingkan perutnya sendiri dari pada terciptanya sebuah ketertiban berlalu lintas. Contoh nyata yaitu saat “ cegatan ´ , mereka kadang sangat mau untuk disuap, walaupun hanya sebesar 50 sampai 100 ribu rupiah saja. Padahal pelanggaran yang dilakukan dapat berakibat lebih dari uang yang untuk disuap tadi.
            Terciptanya suatu ketertiban berlalu lintas adalah sebuah kesadaran dari alam diri para pengguna jalan umum. Untuk itu, para individu yang menggunakan jalan umum harusnya sudah menyadari tentang pentingnyakeselamatan dalam berkendara di jalan umum. Bermula dari kesadaran diri sendiri, pasti akan tercipta setertiban untuk berlalu lintas.

Minggu, 20 Februari 2011

IKHLAS

                 Ikhlas, suatu kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kaum muslimin. Sebuah kata yang singkat namun sangat besar maknanya. Sebuah kata yang seandainya seorang muslim terhilang darinya, maka akan berakibat fatal bagi kehidupannya, baik kehidupan dunia terlebih lagi kehidupannya di akhirat kelak. Ya itulah dia, sebuah keikhlasan. Amal seorang hamba tidak akan diterima jika amal tersebut dilakukan tidak ikhlas karena Allah.
Allah berfirman yang artinya,
“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (Qs. Az Zumar: 2)
Keikhlasan merupakan syarat diterimanya suatu amal perbuatan di samping syarat lainnya yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Perkataan dan perbuatan seorang hamba tidak akan bermanfaat kecuali dengan niat (ikhlas), dan tidaklah akan bermanfaat pula perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba kecuali yang sesuai dengan sunnah (mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam)”
Apa Itu Ikhlas ?Banyak para ulama yang memulai kitab-kitab mereka dengan membahas permasalahan niat (dimana hal ini sangat erat kaitannya dengan keikhlasan), di antaranya Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, Imam Al Maqdisi dalam kitab Umdatul Ahkam, Imam Nawawi dalam kitab Arbain An-Nawawi dan Riyadhus Shalihin-nya, Imam Al Baghowi dalam kitab Masobihis Sunnah serta ulama-ulama lainnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut. namun, apakah sesungguhnya makna dari ikhlas itu sendiri ?Saudaraku, yang dimaksud dengan keikhlasan adalah ketika engkau menjadikan niatmu dalam melakukan suatu amalan hanyalah karena Allah semata, engkau melakukannya bukan karena selain Allah, bukan karena riya (ingin dilihat manusia) ataupun sum’ah (ingin didengar manusia), bukan pula karena engkau ingin mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi di antara manusia, dan juga bukan karena engkau tidak ingin dicela oleh manusia. Apabila engkau melakukan suatu amalan hanya karena Allah semata bukan karena kesemua hal tersebut, maka ketahuilah saudaraku, itu berarti engkau telah ikhlas. Fudhail bin Iyadh berkata, “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya.”
Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas ?Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah semata seperti sholat, puasa, zakat, membaca al qur’an , haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun ukhti muslimah, ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah. Ketika engkau tersenyum terhadap saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau mengunjungi saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau meminjamkan saudarimu barang yang dia butuhkan, engkau pun harus ikhlas. Tidaklah engkau lakukan itu semua kecuali semata-mata karena Allah, engkau tersenyum kepada saudarimu bukan karena agar dia berbuat baik kepadamu, tidak pula engkau pinjamkan atau membantu saudarimu agar kelak suatu saat nanti ketika engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun akan dibantu olehnya atau tidak pula karena engkau takut dikatakan sebagai orang yang pelit. Tidak wahai saudariku, jadikanlah semua amal tersebut karena Allah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:“Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, “Hendak ke mana engkau ?” maka dia pun berkata “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini.” Maka malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?” orang itu pun menjawab: “Tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah, malaikat itu pun berkata “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena-Nya.” (HR. Muslim)
Perhatikanlah hadits ini wahai Saudaraku, tidaklah orang ini mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut. Tidakkah engkau ingin dicintai oleh Allah wahai ukhti ?
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,“Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu.” (HR Bukhari Muslim)
Renungkanlah sabda beliau ini wahai saudaraku, bahkan “hanya” dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di mulut istrinya, apabila dilakukan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberinya pahala. Bagaimana pula dengan pengabdianmu terhadap suamimu yang engkau lakukan ikhlas karena Allah ? bukankah itu semua akan mendapat ganjaran dan balasan pahala yang lebih besar? Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita.
Berkahnya Sebuah Amal yang Kecil Karena IkhlasWahai Saudaraku yang semoga dicintai oleh Allah, sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Abdullah bin Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat.”
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata: Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga karenanya.” (HR. Muslim)
Lihatlah Wahai Saudaraku, betapa kecilnya amalan yang dia lakukan, namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk surga karenanya.
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya.” (HR Bukhari Muslim)
Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim ? Dan sebaliknya, wahai ukhti, amal perbuatan yang besar nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya. Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah Al Bahili, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh orang lain?” maka Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu pun mengulangi pertanyaannya tiga kali, Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenanya.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasai). Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seseorang yang dia berjihad, suatu amalan yang sangat besar nilainya, namun dia tidak ikhlas dalam amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak mendapatkan balasan apa-apa.
Buah dari IkhlasUntuk mengakhiri pembahasan yang singkat ini, maka kami akan membawakan beberapa buah yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas. Seseorang yang telah beramal ikhlas karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya.
Allah berfirman tentang perkataan Iblis laknatullah alaihi yang artinya:Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Qs. Shod: 82-83). Buah lain yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas adalah orang tersebut akan Allah jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas. “ ( Qs. Yusuf : 24).
Pada ayat ini Allah mengisahkan tentang penjagaan Allah terhadap Nabi Yusuf sehingga beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-faktor yang mendorong beliau untuk melakukan perbuatan tersebut sangatlah kuat. Akan tetapi karena Nabi Yusuf termasuk orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun menjaganya dari perbuatan maksiat. Oleh karena itu wahai Saudaraku, apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan, ketahuilah sesungguhnya hal tersebut diakibatkan minim atau bahkan tidak adanya keikhlasan di dalam diri kita, maka introspeksi diri dan perbaikilah niat kita selama ini, semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas.Dan semoga Allah senantiasa karuniakan keikhlasan hati buat kita Semua. Amin ya Rabbal alamin. 


Andrean El-Fachri